Orangtua Wajib Tahu Inilah Bahaya MPASI dan Air Putih Pada Bayi Kurang dari 6 Bulan ...!

IKLAN
Temukan berbagai alasan mengapa pemberian makanan bayi sebaiknya dilakukan setelah si kecil berusia 6 bulan.

Salah persepsi tentang pemberian makanan bayi

“Boleh ngga bayiku yang berusia 1,5 bulan diberi makan pisang?”

“Bayiku berusia 3 bulan, tetapi tidak bisa gemuk… Bolehkah saya berikan air tajin supaya gemuk?”

Begitulah tipikal pertanyaan yang sering dijumpai di berbagai grup media sosial. Padahal, pemberian makanan bayi selain ASI atau susu formula sebelum si kecil berusia 6 bulan adalah BERBAHAYA.

Apa saja alasannya? Kali ini theAsianParent membahasnya untuk kita semua.

1. Pencernaan bayi belum siap

Pada tubuh bayi, usus adalah organ yang bertugas menyeleksi makanan mana yang dapat membahayakan kesehatannya.

Untuk mencegah masuknya bahan-bahan alergen ke dalam aliran darah, usus yang sudah ‘cukup dewasa’ mengeluarkan lgA, yaitu protein immunoglobulin yang berfungsi seperti lapisan pelindung pada dinding usus.

Bayi di bawah 6 bulan lgA-nya belum cukup banyak, sehingga walaupun lgA juga terdapat pada ASI, bahan alergen lebih mudah masuk ke dalam aliran darah.

Itulah sebabnya kita tidak disarankan memberi makanan bayi sebelum usianya mencapai 6 bulan. Alergi adalah salah satu bahayanya bila kita memberi mereka MPASI terlalu dini.

2. Gerakan reflek pada lidah bayi

Kenalilah kemampuan bayi Anda. Jika ia belum siap untuk menelan makanan, janganlah memaksanya. Lidah bayi memiliki “Tongue thrust reflex” atau gerakan reflek untuk mendorong makanan, yang sebenarnya adalah karunia alami untuk mencegah bayi tersedak.

Gerakan reflek ini perlahan akan menghilang setelah bayi menginjak usia 6 bulan, sehingga bayi baru siap diberikan MPASI setelah memasuki usia tersebut.

Jika bayi Anda mulai bernafsu untuk mengambil makanan di piring Anda, setidaknya itu adalah tanda bahwa ia sudah siap untuk makan makanan padat.

3. Koordinasi lidah dan mekanisme menelan belum sempurna

Sebelum berusia 6 bulan, secara alami lidah bayi masih dalam kondisi yang sesuai untuk menghisap susu, dan bukan untuk menelan makanan.

Bila kita memberik sesendok makanan bayi sebelum ia berusia 4 bulan, makanan tersebut akhirnya hanya tersebar saja di dalam mulut. Sebagian berada di antara pipi dan gusi, sebagian di bawah langit-langit mulut, sebagian berada di antara bibir dan akhirnya cenderung keluar lagi.

Sedangkan pada usia 4-6 bulan, bayi sudah memiliki kemampuan mendorong makanan dari bagian depan ke belakang mulut.

4. Bayi belum bisa duduk dengan sempurna

Menelan makanan bayi tentu saja berbeda dengan meminum susu. Susu, karena cair, dapat ditelan saat posisi bayi digendong di pangkuan Ibu. Sedangkan untuk menelan makanan padat, kerongkongan haruslah tegak.

Sebaiknya makanan bayi diberikan dengan sendok dan posisi bayi dalam keadaan duduk. Pada umumnya bayi baru bisa duduk setelah berusia 6 bulan, sehingga janganlah tergesa-gesa memperkenalkan MPASI bila ia belum siap.

5. Bayi belum tumbuh gigi

Sebelum usia 6 bulan biasanya bayi belum tumbuh gigi. Hal ini menjadi tanda bahwa mulut bayi sebenarnya hanya siap untuk menghisap dan bukan mengunyah.

Antara usia 4 hingga 6 bulan, bayi sering ‘ngeces’ karena akan tumbuh gigi. Enzim pada air liur tersebut bermanfaat untuk mencerna makanan padatnya di kemudian hari.

6. Bayi yang lebih dewasa lebih pandai meniru orang sekitarnya

Pada usia 6 bulan, bayi mulai meniru orang di sekitarnya. Jika bayi melihat Anda makan sayuran dengan lahap, maka dia ingin ikut mengambil sayuran dan memakannya. Kemampuan meniru ini dapat Anda manfaatkan untuk memperkenalkan berbagai jenis makanan.

Pengaruh pemberian air putih pada bayi di bawah 6 bulan

Salah satu alasan tidak diperbolehkan pemberian air putih pada bayi dibawah usia 6 bulan adalah sistem tubuh bayi yang belum matang, hingga kekebalan tubuh dikhawatirkan belum dapat menerima asupan yang terlalu banyak termasuk air putih. Faktor yang dikhawatiran adalah air putih yang tidak higienis sehingga terjadi paparan bakteri dan bahan mineral. Salah satu bahan mineral, seperti fluroide harus akan mengganggu perkembangan bayi anda.

Kemudian selanjutnya adalah organ ginjal bayi yang belum sempurna sehingga pemberian air putih pada bayi akan mengakibatkan tubuh bayi mengeluarkan sodium dan air buangan terlalu banyak. Kehilangan sodium yang berlebih akan mempengaruhi aktivitas otak sehingga salah satu gejala awalnya adalah perubahan menta dan mengantuk, pembengkakan, suhu tubuh yang rendah dan juga kejang kejang. Selanjutnya adalah pemberian air putih pada bayi dibawah usia 6 bulan akan mempengaruhi asupan ASI, yang menjadi sumber nutrisi utama. Hal ini dipengaruhi karena perut bayi yang merasa penuh sehingga mengurangi keinginan untuk mengkonsumsi asi.

Kesimpulan Pemberian Air Putih Pada Bayi

Dengan demikian, jangan memberikan air putih pada bayi dibawah umur 6 bulan .Meskipun pada kondisi bayi sedang diare sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan minuman elektrolit sesuai dengan kondisi bayi anda, kehilangan cairan pada bayi cukup dengan memenuhi nutrisi utama bayi anda dengan ASI. Bahkan pemberian air putih pada bayi yang mendapatkan ASI ekskulsif akan menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit di dalam tubuhnya sehingga mengganggu penyerapan ASI yang menjadi sumber utama nutrisi bayi di bawah usia 6 bulan. Apabila cuaca panas sebaiknya ibu menambah frekuensi menyusui sehingga bayi tidak mengalami kehausan. Berikan air putih pada saat bayi berumur 6 bulan setelah mendapatkan MPASI untuk mencegah konstipasi (sembelit).


Bunda, jadi janganlah memberikan makanan bayi apapun selain ASI atau susu formula sebelum ia siap ya?
Jangan sampai kejadian seperti kasus di bawah ini terjadi juga pada buah hati Anda.